Seorang lelaki renta saban hari berjalan di depan masjid. Mereka yang dikenal baik selalu memberi nasihat, “Mbah, mbok ya ke masjid. Shalatlah dua rakaat kepada Allah. Engkau sama sekali belum pernah shalat selama hidupmu. Siapa tahu engkau meninggal dalam keadaan baik, shalat!.”
Namun jawabannya selalu,”Saya tak bakalan masuk masjid terkecuali jika diatas papan!”, masksudnya diletakkan dalam peti mati.
Terus begitu kondisinya hingga hari kematian itu tiba. Itu terjadi ketika rumah laki-laki ini dibangun. Ketika proses pembangunan selesai, ia mengamat-amati, siapa tahu ia sudah bisa memindahkan perabot rumah tangganya. Ia berusaha melompati pagar, namun kemudian terjengkang ke tanah. Si mbah keadaannnya antara mati dan sadar, sehinga orang-orang membawanya ke rumah sakit. Kejadian semakin parah sehingga kematian tak terelakkan. Ketika mereka kembali ke rumah, mereka temukan jasadnya menggelembung seperti balon.
Kata mereka, “Kalian wajib memakamkan secepat mungkin sebelum jasadnya mbledos (pecah)”. Inilah nasib akhir hidupnya. Ia tak peroleh apa-apa dari kelelahan dan secepatnya.
Ketika orang-orang membawanya ke masjid, sebagian besar menolak menyalatkan. Inilah akhir kehidupannya yang penuh sial. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan yang demikian.
Ya Allah, berilah kami husnul khatimah. Jangan engkau wafatkan kami selain kami layak masuk surga Mu. Jadikanlah kami mencintai orang shalih dan jadikanlah kami teman Rasul-Mu, Sahabat Nabi Mu dan para Syuhada’ yang telah menempati surgaMu. Amin
Oleh : “A. Syauqi Ilallah” Fisabilillah
Namun jawabannya selalu,”Saya tak bakalan masuk masjid terkecuali jika diatas papan!”, masksudnya diletakkan dalam peti mati.
Terus begitu kondisinya hingga hari kematian itu tiba. Itu terjadi ketika rumah laki-laki ini dibangun. Ketika proses pembangunan selesai, ia mengamat-amati, siapa tahu ia sudah bisa memindahkan perabot rumah tangganya. Ia berusaha melompati pagar, namun kemudian terjengkang ke tanah. Si mbah keadaannnya antara mati dan sadar, sehinga orang-orang membawanya ke rumah sakit. Kejadian semakin parah sehingga kematian tak terelakkan. Ketika mereka kembali ke rumah, mereka temukan jasadnya menggelembung seperti balon.
Kata mereka, “Kalian wajib memakamkan secepat mungkin sebelum jasadnya mbledos (pecah)”. Inilah nasib akhir hidupnya. Ia tak peroleh apa-apa dari kelelahan dan secepatnya.
Ketika orang-orang membawanya ke masjid, sebagian besar menolak menyalatkan. Inilah akhir kehidupannya yang penuh sial. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan yang demikian.
Ya Allah, berilah kami husnul khatimah. Jangan engkau wafatkan kami selain kami layak masuk surga Mu. Jadikanlah kami mencintai orang shalih dan jadikanlah kami teman Rasul-Mu, Sahabat Nabi Mu dan para Syuhada’ yang telah menempati surgaMu. Amin
Oleh : “A. Syauqi Ilallah” Fisabilillah
Saya Tidak Akan Masuk Masjid SelaiN Sesudah di Dalam Peti
Views:
Category:
Bismillah 165,
Hikmah

0 komentar:
Posting Komentar