Kamis, 26 Juli 2012

Tersebutlah seorang ibu miskin yang tinggal bersama putra tunggalnya di sebuah gubuk sederhana. Untuk menghidupi dan menyekolahkan anaknya, ibu tersebut menjual makanan dan menerima pesanan. Suatu hari, sekolah tempat anaknya belajar pesan makanan untuk para guru. Ketika mengantar makanan ke sekolah, ibu itu mampir untuk melihat anaknya. Dengan penuh suka cita, ibu ini menyapa anaknya yang sedang bermain bersama teman-temannya..
Segera ibu tersebut menjadi pusat perhatian anak-anak. Bahkan sebagian anak mengejek dan menertawakannya. Anak tersebut sangat malu, mengacuhkan ibunya dan segera lari.
Sepulang sekolah, anak itu langsung menemui ibunya dan bertanya, mengapa datang ke sekolah? Mengapa mempermalukannya. Ibu itu hanya diam sambil meneteskan air mata. Anak yang sedang marah itu tidak merasa iba. “Jika ibu hanya membuat saya menjadi bahan tertawaan dan ejekan, mengapa ibu tidak lenyap saja dari dunia ini?” tanyanya..
Dari hari k hari, anak ini semakin benci kepada ibunya. Ia belajar keras dan ingin segera meninggalkan rumah dan ibunya. Ketika lulus sekolah menengah, ia berhasil mendapat bea siswa sekolah di luar negeri. Tanpa menunggu, si anak itu segera pergi.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia berhasil lulus dengan nilai terbaik dan mendapatkan pekerjaan baik. Ia memutuskan tinggal di sana karena orang-orang tidak tahu riwayat dan ibunya yang bermata satu.  Ia memutuskan tak mau berurusan dengan ibunya yang dianggapnya membuat malu.
Ia membeli rumah. Menikah dan punya anak. Hidup bahagia dengan istri dan anak-anaknya di rumah yang nyaman dan indah. Semuanya terasa menyenangkan sampai suatu hari, seorang ibu bermata satu muncul di rumahnya. Karena bertahun-tahun tidak bertemu, ibu itu ingin melihat anak dan cucunya.
Ketika berdiri di depan pintu, anak-anak pria itu menertawakan dan mengejeknya. Pria itu sangat marah dan membentak keras. “Segera enyah dari sini! Berani sekali kamu datang ke rumahku dan menakuti anak-anakku”. Ibu itu berdiri mematung, lalu berkata dengan suara tersendat, “Oh, maaf. Saya mungkin salah alamat,” dan segera berlalu dari rumah anaknya.
Waktu berlalu. Suatu hari, pria tersebut menerima undangan reuni di kampung halamannya. Pria itu datang menghadiri reuni. Sesudah itu, ia mendatangi gubuk reot yang dulu ditinggalinya bersama ibunya karena ingin tahu. Para tetangga segera berkerumun dan memberitahu, ibunya sudah meninggal. Si pria itu sama sekali tidak sedih. Salah satu tetangga lalu menyampaikan surat yang dititipkan ibunya untuknya..
“Anakku tersayang, setiap saat ibu merindukanmu. Ibu minta maaf datang ke rumahmu dan menakuti anak-anakmu. Ibu sangat senang ketika mendengar kamu akan pulang untuk reuni. Tapi ibu tidak bisa meninggalkan tempat tidur untuk melihatmu. Ibu minta maaf, terus menerus membuatmu malu.
Ibu ingin cerita. Ketika kamu masih sangat kecil, kamu kecelakaan dan kehilangan satu mata. Sebagai orangtua, ibu tak tega membayangkan kamu tumbuh besar dengan satu mata. Karena itu, ibu memutuskan memberikan satu dari mata ibu kepadamu. Ibu sangat senang, putra ibu bisa melihat dunia baru dengan mata itu.
“Dari Ibumu.”
Sering terjadi, kesenangan, kenyamanan, suka cita dan kebahagiaan yang kita rasakan adalah karena hasil usaha atau pengorbanan dari orang lain. Coba renungkan sejenak orang-orang yang telah mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan bagi Anda. Berterima kasihlah kepada mereka. Lalu bersyukur untuk semua itu.
Orangtua sering berkorban dan menderita secara diam-diam untuk kesuksesan dan kebahagiaan anaknya. Senangkan orang tua sekarang juga. Jangan tunggu sampai besok karena kemungkinan sudah sangat terlambat.

"Aku Malu" Ibuku Bermata Satu

  • Uploaded by: Unknown
  • Views:
  • Category: ,
  • Share

    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Our Team Members

    Copyright © Kajian Ku | Designed by Templateism.com | WPResearcher.com