Oleh: Jakaria Kaka
Hari telah larut malam. Suasana sangat hening dan banyak orang telah lelap dalam tidurnya. Yang terdengar hanyalah suara binatang malam yang bersahut-sahutan. Tiba-tiba keheningan malam itu terpecah oleh suara tangisan seorang bayi dari sebuah rumah. Sang Ibu yang telah terlelap dalam tidurnya pun bergegas bangun dan menghampiri buah hatinya. Rasa kantuk yang menggelayuti tidak dihiraukannya.
”Oh… adik pipis ya?” Ibu berkata sendiri sambil mengganti pakaian (popok) bayinya yang telah basah. Setelah itu Ibu pun mendekap anaknya agar berhenti menangis dan kadang Ibu berusaha dengan cara mengalunkan nada atau lagu agar bayinya tertidur kembali. Tak lama kemudian bayi tertidur kembali. Ibu tadi, meskipun telah berusaha untuk tidur, namun matanya tak mau dipejamkan hingga fajar tiba. Pengalaman seperti ini kerap sekali dialami oleh seorang Ibu yang mempunyai momongan kecil.
Coba kita renungkan saat kita masih bayi, kita dijaganya siang dan malam tanpa kenal lelah. Kita dibimbing dengan sabar, tanpa keluhan. Betapa besarnya jasa Ibu kepada kita, dan kita tidak akan pernah bisa untuk membalasnya. Mekipun memberinya harta berlimpah, namun jasanya tak terbalaskan.
Namun hari ini kita dengan mudah melihat, betapa banyak anak atau para remaja yang berani menentang orang tua, khususnya Ibu. Jika keinginannya tidak dipenuhi, maka bermacam cara yang dilakukannya. Ada yang tega menganiaya Ibunya. Di tengah kondisi yang serupa itu, betapa kita menyaksikan keteguhan Ibu yang terus bersabar dalam menghadapi anak.
Maka, sudah semestinya seorang muslim menghormati dan melayani Ibu. Islam memberikan penghargaan yang besar pada Ibu. Tak hanya itu, Islam juga menempatkan Ibu pada posisi yang terhormat. Nabi Muhammad bahkan memberikan teladan saat ditanya posisi siapa mesti dihormati? Tiga kali baginda Nabi menyatakan seorang anak perlu memberikan penghormatan kapada Ibu. Setelah menyahut Ibu tiga kali, baginda Nabi menyebut Bapak. Ini menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian besar pada Ibu dan mengakui 100 % betapa pentingnya posisi dan peran seorang Ibu. Seorang muslim pun wajib memberikan hormat dan bakti kepada Ibu.
Cobalah renungkan, pernahkah kita merasakan bagaimana susahnya melahirkan anak? Betapa sakitnya, bagaimana beratnya merawat hingga dewasa? Ibu mengasihi sejak dalam kandungan hingga bertahan hidup di muka bumi. Ia mendidik susah payah hingga kita duduk dibangku Taman Kanak-kanak. Cobalah kita ingat, saat TK, Ibu kita setia menunggu di depan pintu, di tengah terik panas matahari menerpa tubuh tak henti mengawasi demi keselamatan anak. Ibu memantau terus dari jarak jauh segala tingkah kita.
Mari kita renungkan pengorbanan Ibu kala mengajari berhitung dan membaca dengan kasih sayang. Apa balasan kita? Kita membalaskannya dengan ledekan! Berlari kesana kemari! Pernahkah kita merenung, Ibu selalu mendo’akan anak demi meraihnya cita-cita? Betapa pusing Ibu melihat anak di bangku sekolah mendapat nilai jelek? Batapa sedih Ibu melihat anak dianiaya temen di sekolah!
Setiap jelang tidur, Ibu mendo’akan penuh dengan tangis agar kita menjadi anak yang berguna, membanggakan orang tua dan sukses dunia-akhirat. Ibu mendo’akan setiap langkah dan jejak kaki kita. Sayangnya kita selalu lupa, atau pura-pura lupa atas semua itu. Menginjak hingga bangku SMA, Ibu mendo’akan kita agar diberi kekuatan menyerap pelajaran yang diberikan guru. Mari renungkan! Kala menempuh ujian dan mendapatkan nilai terbaik, pernakah kita berfikir bahwa malam itu Ibu berdo’a agar Tuhan mengulurkan tangan agar kita mampu mengerjakan ujian kita.
Saat lulus SMA tanpa merasa dosa lantas kita pergi bersenang-senang dengan temen-temen hingga larut malam untuk merayakan kelulusan. Pernakah terpikirkan betapa Ibu seorang diri di tengah malam selalu mendo’akan dengan tangisan air mata. Ibu tak pernah lelah dengan segenap harap memohon kepada Tuhan agar kita diberi kemudahan dan kelulusan dengan nilai yang terbaik.
Ingatlah kala kita masih duduk di bangku sekolah menengah. Kita merasa telah dewasa, lantas kita berubah menjadi egois. Tak segan kita marah dan membentak Ibu. Sadarkah kita, pernahkah kita berfikir betapa sedihnya hati Ibu?. Pernakah terbayangkan, betapa Ibu menangis tersendu menangisi segala perilaku dan pola tingkah laku kita atas semua itu, sama sekali kita tidak meminta maaf! Lebih dari itu, sama sekali kita tak pernah berfikir betapa besar ketakutan Ibu melihat kita hendak menempuh ujian sekolah menengah. Demi meraih nilai yang terbaik, lulus dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Pernakah terbayang dalam benak, dalam do’a Ibu terlintas nama kita, kesuksesan kita? Semua itu terus berulang dan berulang hingga kita selesai menempuh bangku perguruan tinggi.
Kala lulus, pernakah terbayang dalam benak kita, kelulusan itu bukan karena kerja tangan, mata, dan pikiran kita. Akan tetapi, tak lebih karena kekuatan do’a Ibu yang maha dahsyat itu. Bahkan setelah lulus baru bekerja, tersadarkah kita, bahwa rezeki yang mengalir lancar ke kantong kita juga merupakan buah do’a Ibu yang mengalir tiada henti!
Mari kita camkan sobat, Ibu mengharapkan yang terbaik untuk kita. Dalam hening ia berdo’a agar kita dilindungi oleh-Nya, serta dikaruniai kebahagiaan dunia dan akhirat. Bayangkan coba kita bertanya, ”Apakah yang Ibu inginkan dariku?” pasti jawabannya bukan. Ia pasti menginginkan yang terbaik untuk kita.
Nah, jika hari ini kita merasa suntuk, takut, khawatir, gelisah, dan sebagainya, maka kembalilah ke pangkuan Ibumu (Ibunda). Cium tangannya, bahkan cium kakinya! Mintalah do’a kepadanya. Niscaya ketenangan akan kita dapatkan. Tak perlu kita tanya apakah Ibu mendo’akan kita. Pasti, Dia pasti mendo’akan kita.
Begitu dahsyat pengorbanan seorang Ibu, sehingga musisi Iwan Fals menulis sebuah syair yang menggugah:
Hari telah larut malam. Suasana sangat hening dan banyak orang telah lelap dalam tidurnya. Yang terdengar hanyalah suara binatang malam yang bersahut-sahutan. Tiba-tiba keheningan malam itu terpecah oleh suara tangisan seorang bayi dari sebuah rumah. Sang Ibu yang telah terlelap dalam tidurnya pun bergegas bangun dan menghampiri buah hatinya. Rasa kantuk yang menggelayuti tidak dihiraukannya.
”Oh… adik pipis ya?” Ibu berkata sendiri sambil mengganti pakaian (popok) bayinya yang telah basah. Setelah itu Ibu pun mendekap anaknya agar berhenti menangis dan kadang Ibu berusaha dengan cara mengalunkan nada atau lagu agar bayinya tertidur kembali. Tak lama kemudian bayi tertidur kembali. Ibu tadi, meskipun telah berusaha untuk tidur, namun matanya tak mau dipejamkan hingga fajar tiba. Pengalaman seperti ini kerap sekali dialami oleh seorang Ibu yang mempunyai momongan kecil.
Coba kita renungkan saat kita masih bayi, kita dijaganya siang dan malam tanpa kenal lelah. Kita dibimbing dengan sabar, tanpa keluhan. Betapa besarnya jasa Ibu kepada kita, dan kita tidak akan pernah bisa untuk membalasnya. Mekipun memberinya harta berlimpah, namun jasanya tak terbalaskan.
Namun hari ini kita dengan mudah melihat, betapa banyak anak atau para remaja yang berani menentang orang tua, khususnya Ibu. Jika keinginannya tidak dipenuhi, maka bermacam cara yang dilakukannya. Ada yang tega menganiaya Ibunya. Di tengah kondisi yang serupa itu, betapa kita menyaksikan keteguhan Ibu yang terus bersabar dalam menghadapi anak.
Maka, sudah semestinya seorang muslim menghormati dan melayani Ibu. Islam memberikan penghargaan yang besar pada Ibu. Tak hanya itu, Islam juga menempatkan Ibu pada posisi yang terhormat. Nabi Muhammad bahkan memberikan teladan saat ditanya posisi siapa mesti dihormati? Tiga kali baginda Nabi menyatakan seorang anak perlu memberikan penghormatan kapada Ibu. Setelah menyahut Ibu tiga kali, baginda Nabi menyebut Bapak. Ini menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian besar pada Ibu dan mengakui 100 % betapa pentingnya posisi dan peran seorang Ibu. Seorang muslim pun wajib memberikan hormat dan bakti kepada Ibu.
Cobalah renungkan, pernahkah kita merasakan bagaimana susahnya melahirkan anak? Betapa sakitnya, bagaimana beratnya merawat hingga dewasa? Ibu mengasihi sejak dalam kandungan hingga bertahan hidup di muka bumi. Ia mendidik susah payah hingga kita duduk dibangku Taman Kanak-kanak. Cobalah kita ingat, saat TK, Ibu kita setia menunggu di depan pintu, di tengah terik panas matahari menerpa tubuh tak henti mengawasi demi keselamatan anak. Ibu memantau terus dari jarak jauh segala tingkah kita.
Mari kita renungkan pengorbanan Ibu kala mengajari berhitung dan membaca dengan kasih sayang. Apa balasan kita? Kita membalaskannya dengan ledekan! Berlari kesana kemari! Pernahkah kita merenung, Ibu selalu mendo’akan anak demi meraihnya cita-cita? Betapa pusing Ibu melihat anak di bangku sekolah mendapat nilai jelek? Batapa sedih Ibu melihat anak dianiaya temen di sekolah!
Setiap jelang tidur, Ibu mendo’akan penuh dengan tangis agar kita menjadi anak yang berguna, membanggakan orang tua dan sukses dunia-akhirat. Ibu mendo’akan setiap langkah dan jejak kaki kita. Sayangnya kita selalu lupa, atau pura-pura lupa atas semua itu. Menginjak hingga bangku SMA, Ibu mendo’akan kita agar diberi kekuatan menyerap pelajaran yang diberikan guru. Mari renungkan! Kala menempuh ujian dan mendapatkan nilai terbaik, pernakah kita berfikir bahwa malam itu Ibu berdo’a agar Tuhan mengulurkan tangan agar kita mampu mengerjakan ujian kita.
Saat lulus SMA tanpa merasa dosa lantas kita pergi bersenang-senang dengan temen-temen hingga larut malam untuk merayakan kelulusan. Pernakah terpikirkan betapa Ibu seorang diri di tengah malam selalu mendo’akan dengan tangisan air mata. Ibu tak pernah lelah dengan segenap harap memohon kepada Tuhan agar kita diberi kemudahan dan kelulusan dengan nilai yang terbaik.
Ingatlah kala kita masih duduk di bangku sekolah menengah. Kita merasa telah dewasa, lantas kita berubah menjadi egois. Tak segan kita marah dan membentak Ibu. Sadarkah kita, pernahkah kita berfikir betapa sedihnya hati Ibu?. Pernakah terbayangkan, betapa Ibu menangis tersendu menangisi segala perilaku dan pola tingkah laku kita atas semua itu, sama sekali kita tidak meminta maaf! Lebih dari itu, sama sekali kita tak pernah berfikir betapa besar ketakutan Ibu melihat kita hendak menempuh ujian sekolah menengah. Demi meraih nilai yang terbaik, lulus dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Pernakah terbayang dalam benak, dalam do’a Ibu terlintas nama kita, kesuksesan kita? Semua itu terus berulang dan berulang hingga kita selesai menempuh bangku perguruan tinggi.
Kala lulus, pernakah terbayang dalam benak kita, kelulusan itu bukan karena kerja tangan, mata, dan pikiran kita. Akan tetapi, tak lebih karena kekuatan do’a Ibu yang maha dahsyat itu. Bahkan setelah lulus baru bekerja, tersadarkah kita, bahwa rezeki yang mengalir lancar ke kantong kita juga merupakan buah do’a Ibu yang mengalir tiada henti!
Mari kita camkan sobat, Ibu mengharapkan yang terbaik untuk kita. Dalam hening ia berdo’a agar kita dilindungi oleh-Nya, serta dikaruniai kebahagiaan dunia dan akhirat. Bayangkan coba kita bertanya, ”Apakah yang Ibu inginkan dariku?” pasti jawabannya bukan. Ia pasti menginginkan yang terbaik untuk kita.
Nah, jika hari ini kita merasa suntuk, takut, khawatir, gelisah, dan sebagainya, maka kembalilah ke pangkuan Ibumu (Ibunda). Cium tangannya, bahkan cium kakinya! Mintalah do’a kepadanya. Niscaya ketenangan akan kita dapatkan. Tak perlu kita tanya apakah Ibu mendo’akan kita. Pasti, Dia pasti mendo’akan kita.
Begitu dahsyat pengorbanan seorang Ibu, sehingga musisi Iwan Fals menulis sebuah syair yang menggugah:
Ibuku sayang, masih terus berjalan
Walau telapak kaki
Penuh darah
Penuh nanah
Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak sanggup kumembalas
Ibu…….
Wahai Ibu, betapa mulianya dirimu. Dekaplah aku dalam do’amu!
Walau telapak kaki
Penuh darah
Penuh nanah
Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak sanggup kumembalas
Ibu…….
Wahai Ibu, betapa mulianya dirimu. Dekaplah aku dalam do’amu!
Wahai Ibu ,,,,,,,,,, Dekaplah Aku Dalm Do'a Mu
Views:
Category:
Bismillah 165,
Hikmah

0 komentar:
Posting Komentar